Hola!
First of all, terima kasih untuk Pahlevi Fikri Auliya (Levi) yang udah share link TEDxKRP sekitar 10 hari yang lalu. Ternyata, yang ngeshare linknya nggak daftar. Baru tahu tadi sih, sayang aja, padahal udah rencana bakal ngobrol-ngobrol dulu sepulang TEDxKRP.
Langsung saja, ini poster acaranya:
Tadi itu kali pertama saya mampir ke U-Town-nya NUS. Keren euy. Satu tahun setelah NTU ngeluarin campus master plan-nya, NUS sudah jadi dengan U-Town-nya. >.<
Oke next!
Setibanya di venue dan ngelapor ke meja registrasi, ternyata nama saya nggak ada di daftar peserta yang udah mendaftar. Tapi, saya dapat confimation emailnya kok. Ternyata, emang ada beberapa technical problems sama website mereka. Ketika di dalam auditorium, saya ngobrol sama seorang mahasiswi NUS soal teknis soal pendaftaran online acara ini. Dia bilang, “see, technology fails.” Saya jawab, “nope, that is human who fails.” Dia setuju. Bukan teknologi yang salah, tapi manusia lah yang belum bisa/silap menggunakannya.
Tadi, audi-nya overloaded dengan manusia dan semua orang yang datang baik yang udah daftar, yang masih di waiting list, dan yang walk-in sekalipun dibolehin masuk. Yang nggak dapet kursi, duduk di stair ways dan di depan dekat pembicara.
Kenapa judul postingan kali ini 4/7 TEDxKRP SocialChange 2.0? Karena saya cuma dengerin 4 dari 7 pembicara yang diundang karena ada amanah lain yang musti dikerjakan online.
Pembicara pertama, adalah Koh Seng Choon. Usahanya Dignity Kitchen, yang kurang lebih adalah memberdayakan disabled people untuk jadi hawker (pengelola hawker centre). Hawker centre sendiri itu istilah food court khas Singapura.
Seng Choon bilang,
social entrepreneurship is about innovation in a social cause.
Buat saya, kutipan di atas ngasih gambaran yang jelas tentang social entrepreneurship (SocEnt). Dulu, saya kira SocEnt itu kasarnya kayak cari duit dengan alasan kasihan (pity). Analogi yang ekstrim mungkin seperti pengemis bawa bayi atau uang panti asuhan yang dikorupsi, hehe.
Ide Dignity Kitchen menarik dan pendekatannya holistik. Seng Choon dan teman-teman berkreasi dan berinovasi agar the disabled yang beraneka bisa terberdayakan. Disabled nggak cuma yang di kursi roda doang kan? Ada yang stroke setengah badan, ada yang buta, ada yang tangannya gak bisa ngegenggam dan getar-getar kayak parkinson gitu, dan ada juga tuli. Gimana caranya?
Untuk yang stroke setengah badan, diciptakanlah sebuah kompor terintegritas sehingga si kokinya cuma butuh satu tangan pas masak mi. Untuk yang buta, mereka diajarin cara ngebedain uang mulai dari metode Braille sampe perbandingan panjang-lebar uang kertas, biar bisa jadi kasir. Untuk yang tuli, dibikinkan bahasa isyarat untuk tiap minuman. Ada isyarat berbeda untuk kopi susu, kopi o, kopi c, kopi manis, kopi setengah manis, kopi manis banget, terus teh susu, teh o, teh c, dan milo. Milo deh yang superkocak, isyaratnya adalah gerakan nendang bola, haha.
Key ideanya sih, kita harus berfikir inovatif dalam memberdayakan sumber daya yang kita bisa manfaatkan.
Terus, ada Veera, co-founder SL2 (Sustainable Living Lab). Dia cerita sejarah sehingga dia dkk bisa came up dengan SL2. Dia cerita,
So we were a group of Engineering Science students who screwed up our first semester CAP*. After we extrapolated our probability to attain first class degree which turned out to be impossible, we decided to make a new measure to be a man. We joined engineering projects, we created student innovation-kind-of club, and later we won few awards. Yeah, we strived in group.
*clap clap clap* Saya kagum dengan Veera dkk. Yang benar saja, di semester dua mereka sudah bikin life-changing resolution. Hal lain yang mau saya highlight adalah Veera nggak kerja sendirian. Mereka kerja dalam grup.
Veera dkk pernah dianugerahi bla bla Award dari UNESCO. Saat ditanya ke UNESCO, mereka dapat jawaban bahwa mereka menang bukan karena kecanggihan inovasi yang mereka buat, tapi karena mereka sudah ngasih solusi ke problem sistemik di sebuah desa tani di India.
Sekarang Veera lagi nego sama pemerintah agar dapat perpanjangan kontrak untuk lahan dimana semi-outdoor laboraturium alamnya berada. Mari kita doakan, SL2 tetap ada, setidaknya sampai saya dan teman-teman mengunjunginya.
Btw, sebelum datang TEDxKRP, saya udah baca-baca juga soal SL2 di internet. Salah satu produknya yang menurut saya keren banget adalah iBam. iBam technically adalah speaker bambu khusus iPhone yang mengunakan prinsip fisika sederhana.
Next!
Ada Fairoz Ahmad, the Co-Founder of Nusantara Development Initiatives (NDI). Fairoz lebih banyak cerita tentang wisdom dan pesan moral in making changes. Saya list beberapa kalimat yang saya kutip dari talk-nya tadi,
- To change the world, you have to be unreasonable, be irrational, and don’t be qualified.
- Reason has always existed, but not always in a reasonable form. (Karl Marx)
- We have to maximize our effort, and minimize (the hope for) reward.
- We have to move driven by the power of ideas, not any kind of return.
- To start, you don’t have to be too qualified, instead you only need to be okay enough and what you do worth your time.
- We have to be prepared with high level of uncertainty and ready to learn new things.
- If someone questions you why you do those unreasonable things, ignore them and don’t waste your time.
Sedikit cerita tentang being unreasonable, Fairoz memberikan penekanan bahwa kita lah yang harus mendobrak pemikiran yang banyak orang pikir unreasonable. Generasi orang tua kita sudah punya definisi baku apa yang menurut mereka reasonable maka,
Parents won’t change the world.
![]()
Dalam kasus NDI, Fairoz berhasil memotong-motong kelambu pemikiran bahwa kaum wanita tidak pernah dan tidak bisa travel ke pulau lain. Setelah negosiasi, NDI mengondisikan sehinggan kaum wanita dari pulau A berkunjung dan networking sama kaum wanita di pulau B. Tujuannya adalah setelah terbentuknya jejaring, mereka bisa memasarkan produk sel surya, yang khusus disubsidi untuk rural area, di pulau B yang belum menggunakan produk tersebut.
Terakhir ada Andreas Birnik dengan CarbonStory. Dalam talk-nya, Andreas came up with beberapa trends yang dia dan rekannya amati. Salah satunya bahwa fear approach isn’t working. Dia juga memperlihatkan beberapa headlines di media, bagaimana maraknya fear approach dipakai. Tapi, di berita yang lain, terjadi pesimisme mancanegara besar-besaran dalam membentuk common agreement dalam menanggulangi climate change isssues.
CarbonStory sendiri menggunakan pendekatan yang disebut gamification. Website CarbonStory memanfaatkan fitur-fitur yang ada di permainan seperti badges for particular accomplishments, point system, dan progress bar, dalam mendidik dan mengajak warga dunia untuk berpartisipasi mengurangi persentasi gas rumah kaca di udara. Menarik kan? Andreas ngasih salah satu contoh efektifnya fitur-fitur gamification ini, yaitu bertambahnya sekitar 20% jumlah akun linkedin yang melengkapi resume mereka setelah fitur progress bar dipakai. Contoh lain yang langsung saya alami adalah sistem badges yang digunakan coursera (sebuah free online course website). Ini snap shotnya. Klik untuk memperbesar.
Sekian dulu reportasi dari saya di kesempatan kali ini. Walaupun belum ada hati pada SocEnt, di TEDxKRP saya dapat banyak inspirasi dan pesan moral yang dibutuhkan oleh change makers. TED: Ideas worth spreading.
Terima kasih Levi, alhamdulillah TEDxKRP sesuatu banget.

